Mengemis merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh orang yang kurang mampu dalam melakukan suatu pekerjaan secara normal. Dan mereka ialah orang yang membutuhkan uang,makanan, dan hal lain yang diperlukan. Fenomena para pengemis memintaa minta ini sudah banyak, didaerah banda aceh saja sudah sangat banyak. Entah dari mana datangnya para pengemis tersebut.
Para pengemis sekarang ini apabila kita amati, mereka bisa bekerja seperti orang lain bekerja, akan tetapi hasil yg didapatnya itu lebih memuaskan dari pada bekerja secara normal, makanya mereka sudah senang dengan meminta-minta kepada orang.
Dari hasil pengamatan saya terhadap dua orang pengemis . Pada pengemis pertama yang saya amati beliau merupakan seorang laki-laki yang mempunyai umur kira-kira 55 tahun dan didampingi oleh seorang anak laki-laki yang kira-kira mempunya umur sekitaran 8 tahun, bapak tersebut dengan menggunakan baju yang tidak rapi,mungkin baju tersebut tidak lah di cuci selama beliau menjalankan aksinya tersebut.beliau merupakan tunanetra, makanya beliau menggunakan pendamping dalam melakukan aksinya ini, dengan menggunakan celana warna hitam,baju batik,peci dan sendal swallow yang bewarna putih.
Anak tersebut menggunakan baju yang bewarna biru dongker dengan memegang kue di tangan kanannya tersebut,dan tangan kirinya digunakan untuk menuntun bapak tersebut.metode yang digunakan ialah dengan bapak tersebut meminta minta,dan anak tersebut menuntunnya.
Pada pengemis yang kedua. Seorang bapak bapak yang didampingi oleh seorang wanita yang mungkin itu pendamping hidupnya. Beliau juga seorang tunanetra, bapak ini memakai baju yang rapi bewarna putih ,celana kain,peci dan sendal swallow bewarna putih, wanita tersebut dengan memakai baju bewarna ungu dan membawa sebuah dompet.
Metode yang digunakan dalam mengemis adalah dengan bapak tersebut jubir nya, dan ibu ibu tersebut hanyalah orang yang menuntunnya kemana mana.sama dengan metode pada pengemis pertama. Sekian
Selasa, 26 April 2016
Minggu, 17 April 2016
Sampah
Kebersihan sebagian dari iman. Ya kalimat tersebut sudah tak asing lagi kita lihat maupun kita dengar. Namun apakah kita telah merealisasikan kalimat tersebut dan menerapkannya ke dalam kehidupan kita sehari-hari? Islam telah mengajarkan umatnya untuk selalu menjaga kebersihan dan menerapkan perilaku hidup bersih di dalam kehidupan. Namun hingga saat ini, masih sangat banyak orang yang tidak menjaga kebersihan, baik kebersihan di lingkungannya sendiri maupun lingkungan sekitarnya.
Hal yang menjadi fokus utama saya pada pengamatan kali ini ialah mengenai sampah. Membuang sampah sembarangan memang sudah tak asing lagi kedengarannya. Ya itulah kebiasaan buruk masyarakat yang tidak bisa dirubah hingga saat ini terutama di daerah kota Banda Aceh. Kota Banda Aceh yang bergelar Kota Madani ini merupakan salah satu kota yang penduduknya mayoritas Muslim. Namun, para penduduk kota Banda Aceh tidak perduli akan kebersihan lingkungannya sendiri dan bahkan lingkungan sekitarnya. Membuang sampah sembarangan seakan-akan merupakan sesuatu yang biasa dan tidak akan menimbulkan suatu kemudharatan.
Pada kenyataannya saat ini, sampah kota Banda Aceh yang pembuangan akhirnya berlokasi di kampung jawa sudah sangatlah menggunung. Belum lagi sampah-sampah yang berserakan di jalan raya yang tentunya sangat mengganggu penglihatan kita. Sebagai contoh, mungkin Anda berpikir tidaklah mengapa jika kita membuang sampah permen ke sembarangan tempat karena ukuran dari sampah permen tersebut sangat kecil. Namun, tahukah Anda satu bungkus permen yang dibuang ke sembarang tempat jika terus menerus dilakukan akan membuat lingkungan tersebut menjadi kotor dan semak. Dan seperti yang kita ketahui, bungkusan permen terbuat dari plastik. Sampah plastik sangatlah susah terurai dan butuh waktu hingga ratusan bahkan ribuan tahun untuk mengurainya. Berbeda halnya dengan sampah organik, dimana sampah tersebut bisa di manfaatkan dan digunakan untuk membuat pupuk kompos yang dapat menyuburkan tanaman.
Hal yang menjadi fokus utama saya pada pengamatan kali ini ialah mengenai sampah. Membuang sampah sembarangan memang sudah tak asing lagi kedengarannya. Ya itulah kebiasaan buruk masyarakat yang tidak bisa dirubah hingga saat ini terutama di daerah kota Banda Aceh. Kota Banda Aceh yang bergelar Kota Madani ini merupakan salah satu kota yang penduduknya mayoritas Muslim. Namun, para penduduk kota Banda Aceh tidak perduli akan kebersihan lingkungannya sendiri dan bahkan lingkungan sekitarnya. Membuang sampah sembarangan seakan-akan merupakan sesuatu yang biasa dan tidak akan menimbulkan suatu kemudharatan.
Pada kenyataannya saat ini, sampah kota Banda Aceh yang pembuangan akhirnya berlokasi di kampung jawa sudah sangatlah menggunung. Belum lagi sampah-sampah yang berserakan di jalan raya yang tentunya sangat mengganggu penglihatan kita. Sebagai contoh, mungkin Anda berpikir tidaklah mengapa jika kita membuang sampah permen ke sembarangan tempat karena ukuran dari sampah permen tersebut sangat kecil. Namun, tahukah Anda satu bungkus permen yang dibuang ke sembarang tempat jika terus menerus dilakukan akan membuat lingkungan tersebut menjadi kotor dan semak. Dan seperti yang kita ketahui, bungkusan permen terbuat dari plastik. Sampah plastik sangatlah susah terurai dan butuh waktu hingga ratusan bahkan ribuan tahun untuk mengurainya. Berbeda halnya dengan sampah organik, dimana sampah tersebut bisa di manfaatkan dan digunakan untuk membuat pupuk kompos yang dapat menyuburkan tanaman.
Sampah plastik bukanlah mutlak menyebabkan permasalahan pencemaran lingkungan. Karena sebenarnya sampah plastik tersebut dapat di daur ulang dan dijadikan berbagai macam kerajinan tangan yang unik dan menarik. Dan dengan kreatifitas orang-orang yang cerdas dan peduli terhadap lingkungan, sampah yang awalnya menjadi masalah malah akan berubah menjadi pundi-pundi rupiah. Maka dari itu, kita harus peduli terhadap lingkungan kita. Mari kita rubah pola berpikir kita agar dapat menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Langganan:
Komentar (Atom)